Tes

Senin, 27 Juli 2026

Moment Mundzir Mengikuti Khitanan Terpadu bersama Bidang Sosial dan Pemberdayaan Umat Masjid Istiqlal Jakarta 2025 //Tahun Baru Islam // 10 Muharram 1447 H

 10  Muharram 1447 H / Ahad, 06 Juli 2025 M

Ayat-ayat yang berkenaan dengan pensyariatan khitan dapat dipahami dari ketentuan surat An-Nisa’ ayat 125. Kriteria ayat ini masuk dalam dalil implisit pensyariatan khitan:

وَمَنْ اَحْسَنُ دِيْنًا مِّمَّنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَّاتَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَاتَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلً

[سُورَةُ النِّسَاءِ: ١٢٥]

Artinya: “Siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang memasrahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia muhsin (orang yang berbuat kebaikan) dan mengikuti agama Ibrahim yang hanif? Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih(-Nya). (QS. An-Nisa ayat 125)

Hukum dan Tata Cara Khitan, Lengkap dengan Dalilnya | Tebuireng Online

Khitan adalah proses pemotongan atau pelepasan ujung kulit kemaluan laki-laki dengan tujuan tertentu dan memiliki beragam manfaat untuk kesehatan. Biasanya, tindakan tersebut dilakukan saat masih berusia anak-anak . Salah satu manfaat khitan adalah untuk kebersihan, kemaluan laki-laki yang telah dikhitan lebih mudah dibersihkan daripada yang belum dikhitan. Terlebih lagi, ujung kemaluan laki-laki yang belum dikhitan merupakan sarang pertumbuhan bakteri dan jamur.

Sumber: https://islam.nu.or.id/syariah/kapan-anak-laki-laki-wajib-dikhitan-xjsLY

Hari ini menjadi sangat special dan pengalaman yang tak akan terlupakan, sebagai orang tua dan seorang ibu yang memiliki anak laki-laki berusia 7 tahun yang akan di khitan, rasanya tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Ada rasa haru, takut, sedih, gembira semua menyatu dalam hati.

Berawal dari keinginan Mundzir yang mau dikhitan karena beberapa kali pernah melihat tayangan short video di layar handphone tentang iklan sebuah rumah khitan yang sangat ramah anak dan menarik. Hal tersebut menjadi salah satu alasan kuat ananda mau diikutsertakan dalam program khitan. Kebetulan Bidsosdaum (Bidang Sosial dan Pemberdayaan Umat) BPMI (Badan Pengelola Masjid Istiqlal) yang diketuai oleh Bapak KH. Abu Hurairah Abdus Salam, Lc. MA menggelar agenda “Layanan Khitanan Terpadu” tepat pada tanggal 10 Muharram 1447 H. Kegiatan ini didukung oleh Kementerian Agama RI, Unilever, Baznas dan Pemprov DKI Jakarta.

Sekitar dua pekan sebelum hari pelaksanaan, secara tiba-tiba ananda Mundzir dengan percaya diri menghendaki untuk dikhitan, setelah diberi persetujuan oleh Aba nya, sejurus kemudian info tersebut tersambung ke Pa Abu selaku ketua Bidsosdaum, awalnya beliau kaget karena pendaftaran sudah ditutup sebab sudah 100 peserta, tetapi Alhamdulillah beliau mengusahakan Mundzir masuk dalam daftar tersebut. Bismillah.

Beberapa hari sebelum dikhitan, persiapan yang dilakukan tidak terlalu spesifik karena memang ini pengalaman pertama dan terakhir untuk Mundzir, Pa Abu hanya memberikan pesan untuk datang pagi hari jam 08.00 wib di Masjid Istiqlal Sektor As-Salam dengan mengenakan  pakaian muslim berwarna putih.



                                        (sehari sebelum dikhitan masih menemani ummah jogging)

Tibalah di hari yang ditentukan, pagi itu Aba, Umma dan Mundzir berangkat dengan roda dua menuju Masjid Istiqlal, Alhamdulillah Kakeknya Mundzir pun turut hadir memberikan support untuk Mundzir yang akan dikhitan.


                                                (Pagi hari baru tiba di Masjid Istiqlal sebelum dikhitan)

Acara pagi ini dimulai dengan opening yang dibuka oleh MC dari Abang None Jakarta Pusat, kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan, sambutan pamungkasnya adalah ketika Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal yaitu Bapak Dr. KH. Nasarudin Umar, MA menyapa anak-anak dengan sangat santun dan seperti yang dikatakan beliau bahwa khitanan ini akan membawa banyak kebaikan. Semoga doa-doa yang beliau panjatkan untuk anak-anak peserta khitan senantiasa diijabah Allah SWT.


Prof. Dr. KH. Nasarudin Umar MA


                                              KH. Abu Hurairah Abdus Salam, Lc. MA

Agenda dilanjutkan dengan sesi arak-arakan peserta khitanan dengan mengendarai delman yang dipandu dua ondel-ondel laki-laki dan perempuan, pawai ini menjadi semakin semarak dengan adanya irama music khas DKI Jakarta. Perjalanan pawai memutari wilayah sekitar Masjid Istiqlal akhirnya berlabuh kembali dan memasuki pintu gerbang Al-Ghaffar. Di sela-sela kesibukan Pa Abu sebagai panitia acara beliau masih menyempatkan diri untuk menyapa dan berfoto bersama, alhamdulillah disambut dengan sangat menyenangkan.






Setelah itu, anak-anak diarahkan masuk ke area Masjid dan  menuju latar depan Aula Ar-Rahman untuk mendengarkan dongeng. Mundzir sempat mengikuti sebentar sambil menunggu panggilan untuk dikhitan. Tiba-tiba Pa Abu memanggil dan menawari Mundzir menjadi peserta No.1 untuk dikhitan, secepat mungkin di iyakan. Alhamdulillah Ya Allah… Mundzir menjadi peserta pertama yang dikhitan.


Proses khitan menjadi pengalaman yang tak terlupakan, pada prosesnya banyak yang menyaksikan dari tim dokter dan ada juga Abang Jakarta yang sempat berkeliling melihat proses khitan Mundzir. Sebagai Ibu tak sanggup melihat proses pemotongan dengan laser bahkan saat dijahit. Proses khitan cukup cepat hanya diawal yang sedikit hati-hati karena ananda merasa tidak nyaman saat disuntik kebal dibeberapa titik. Alhamdulillah setelah dijahit ananda dipakaikan celana batok dan langsung  bisa berjalan karena memang efek suntik kebalnya masih terasa. Terimakasih tim dokter dari Baznas yang telah dengan sangat teliti menangani proses khitan ini.





Ananda disambut panitia khitan dengan senyum merekah dan segera mengambil obat lalu mendapat oleh-oleh ayam bekakak sebagai tanda syukur yang kabarnya merupakan adat seseorang yang sudah dikhitan. Dari kegiatan khitanan terpadu ini ananda mendapatkan hadiah berupa baju koko, sejumlah uang dan bingkisan makanan dan tentu saja pelayanan khitan yang memuaskan serta jadwal control setelah dikhitan.


Pukul 10.00 WIB proses khitan sudah selesai, bergegas pulang yang awalnya berencana untuk naik taksi atau layanan mobil online tapi ternyata ananda Mundzir masih bisa menyesuaikan dan obat suntik kebalnya masih bekerja sehingga masih aman untuk pulang dengan mengendarai motor. Diperjalanan rasa Syukur tak habis dihaturkan karena telah memberikan kelancaran untuk semuanya.

Tiba dirumah dan beristirahat, ananda langsung disambut tante dan sepupunya dengan gembira meskipun obat bius dalam waktu dekat sudah tidak bekerja dan hal itu akhirnya terjadi, saat dititik ananda merasa sakit ananda berteriak, akan tetapi yang sangat dikagumi adalah ketika dia melafalkan kata Allah ketika dia merasa sakit.

Hal yang diluar rencana ternyata besok Madrasah Istiqlal mengadakan Employee Gathering selama dua hari di Kebunsu Bogor, sebagai salah satu pegawai MIJ tentu acara tersebut harus diikuti. Alhamdulillah Allah memudahkan semua, Abanya bisa bekerjasama dan Mundzir bisa dititipkan ke tantenya Mama Farah yang kebetulan sedang menginap.

Semoga khitan ini menjadi kebaikan seperti halnya doa yang disampaikan oleh Menteri Agama saat membuka Khitan Terpadu 2025 M. Barakallah.

--

Btw satu minggu setelah dikhitan Mundzir sudah masuk sekolah tahun ajaran baru dan memakai celana batok. dalam proses penyembuhan Mundzir cukup lama sekitar 2 minggu karena perbannya masih menempel, mungkin karena umma sedikit takut dan khawatir saat mengobati akan tetapi setelah konsul ke Rumah Sehat Baznas di Masjid Istiqlal bersamaan pula dengan acara syukuran kecil2an khitan Mundzir, sore harinya perban tersebut lepas. Alhamdulillah ya Allah...


Konsul dengan dokter Baznas



Senangnya di jengukin guru TPA Mundzir, Ustadzah teteh Farida.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar