Tes

Minggu, 08 Mei 2016

Liburan ke Jogja Istimewa ^0^ // Have a Nice Holiday with IstiqFamz 2016



Kegiatan outbond kemarin masih menyisakan rasa lelah dan pegal di badan yang ruarr biasaaa… sempat berniat untuk meliburkan diri saja dihari yang kata orang kejepit itu karena besok adalah tanggal merah, namun sepertinya aku harus mengurungkan niat menambah jam untuk istirahat di rumah karena aku baru teringat kalau tas jinjing yang akan aku bawa ke Jogja sudah ada di Madrasah sejak kemarin, gak mungkin rasanya meminta Umi Rien untuk membawa tas jinjing yang lumayan berat itu ke dalam bagasi mobilnya jika memang harus janjian bertemu di tempat lain. Ahhh sudahlahh agak repot sepertinya. Akhirnya malam kamis sebelum berangkat berlibur, mau tidak mau aku harus prepare menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk ke Jogja.
Kamis pagi aku diantar adikku ke Madrasah Istiqlal karena rencana kami, aku dan Umi Rien berangkat langsung dari Madrasah mengendarai mobil Umi Rien. Btw masih dalam suasana yang melelahkan badan, anak-anakpun banyak yang tidak hadir ke Madrasah, besar kemungkinan mereka masih kelelahan karena aktifitas kemarin. Alhamdulillah kegiatan kamis ini tidak terlalu padat dan menyita banyak tenaga. Jam kepulangan kerjapun dimajukan menjadi satu jam lebih cepat dari biasanya. Alhamdulillah...
Jam 15.00 WIB sebelum Adzan Asar berkumandang, Aku dan Umi Rien bergegas keluar Masjid Istiqlal dan menjemput teman Umi Rien yaitu Om May, Om May inilah yang menjadi peta perjalanan kami. Hehehe. Beliau sangat membantu mengarahkan liburan kami kali ini, selain membantu Ayah (suami Umi Rien) untuk bergantian menyetir mobil juga menunjukkan letak tujuan wisata serta membantu berkomunikasi dengan pedagang saat kami sedang berbelanja. Maklumlah Om May ini lahir di Sleman Jawa-Tengah, jadi sudah lebih tau seluk beluk Kota Jogja daripada kami.
Setelah menjemput Om May kami langsung menuju kawasan Cakung untuk menjemput Ayah dan anak-anaknya Umi Rien yaitu Faydil dan Mikal serta bertemu Orangtuaku, kali ini Bapak mau ikutan liburan juga katanya, gak rela anak gadis perempuannya liburan sendiri ke Jawa-Tengah. Hehehe
Tiba di rumah Cakung, kami segera Sholat Ashar dan berbincang singkat, para Bapak saling menjalin keakraban, hehe joke-joke aneh dan lucu keluar dari mulut Bapakku sampai kami terpingkal-pingkal. Hemmm emang bokap gue gitu orangnya kocak beda banget sama anaknya. Eehhh
Jam 17.00 WIB mobil kami yang dipenuhi 7 penumpang siap meluncur ke Jawa-Tengah. Kami menyusuri jalan sore yang cukup padat, untuk menuju Tol Karawang saja butuh waktu yang cukup panjang namun kami menikmati perjalanan ini.
Menjelang malam kami berhenti sejenak di rumah makan untuk mengisi tenaga dan menjawab rasa lapar yang sudah memanggil. Untuk Sholat Maghrib kami sudah niatkan untuk di Jama’ Takhir di Isya. Setelah merasa cukup segar dan bertenaga kami melanjutkan perjalanan dan terus menyusuri jalan tol yang sangatttt panjang. Hehe. Sepanjang perjalanan kami saling berbincang ringan meskipun terkadang kami larut dalam istirahat karena kantuk yang menggelayut.
Om May masih standby dengan tugas drivernya sementara kami tertidur pulas menikmati perjalanan malam sambil menikmati alunan lagu Bang H. Rhoma Irama yang di play  sama bokap. Haha, mau gimana lagi orang bokap gue yang begadangin bareng Om May udah gitu koleksi lagu di handphone nya ya lagu-lagu itu. Aihhh lagu lamaaa…………^-^
Tengah malam kami berhenti di sebuah Masjid kecil pedesaan untuk Sholat Isya berjamaah, setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan pertama yaitu melipir ke kampungku di Gombong, Kebumen Jawa-Tengah.

            Gombong, Kebumen, Jawa-Tengah
Harum pedesaan hampir tercium, aku dan bapak berusaha mengarahkan peta perjalanan ke kediaman keluarga kami, Alhamdulillah… menjelang Adzan Subuh kami sudah sampai di rumah sederhana milik keluarga kami. Kami langsung disambut oleh Si Mbah Putri dan Lek Tanti yang kebetulan sedang di sana karena hamil muda, dialah yang membantu mbah menyiapkan kedatangan kami.
Sejenak kami menikmati pisang goreng yang masih mengepul dan segelas teh hangat. Sangat mengobati rasa lelah rasanya, Adzan Subuh memanggil. Kaum laki-laki bergegas Sholat Subuh di Musholla kampung dekat rumah kami. Sementara Aku dan Umi Rien serta anak-anaknya Sholat Subuh di rumah dan memilih merebahkan badan untuk tidur.
Mentari pagi menyapa dengan sangat anggun, di sampingku ada Umi Rien yang sudah wangi karena sudah mandi pagi-pagi sekali. Hemm… rasanya aku juga ingin segera mandi merasakan dinginnya air dan suasana kamar mandi yang sederhana. Hihi
Setelah menyegarkan diri, kami sarapan bersama dengan menu kampung yang sudah disiapkan oleh Lek ku… Alhamdulillah… Oh iya aku rencana akan mengunjugi Mba Retno Muningsih juga yang beberapa minggu lalu baru melepas masa lajangnya, beliau sekarang tinggal bersama orang tuanya di sini dan letak rumahnya tidak jauh dari kediaman kami.
Senangnya bisa silaturahim langsung meski telat datangnya, tapi semoga doa-doanya tetap diterima Allah agar menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah warrahmah. Aamiin. Hampir satu jam kami berbincang bersama dengan keluarganya namun akhirnya aku harus pamit karena ba’da Jumatan kami langsung bergeser ke tempat yang lain.
Akhirnya setelah kami Sholat Zuhur dan makan siang, kami bersiap-siap menuju tempat selanjutnya. Hemm,, kunjungan singkat yang sangat berkesan, Makaciii ya Umi Rien dan keluarga yang sudah mengunjungi rumah keluarga aku. Kamipun berpamitan sama Mbah putri dan Lek Tanti. Makaciii ya Lek… InsyaAllah lebaran tahun ini aku dan keluarga akan ke kampung lagii.. hehe




           
              Malioboro, Jogja
 Perjalanan ditempuh kurang lebih empat jam untuk menuju ke Malioboro, sepanjang perjalanan kami disuguhkan lagu ala-ala anak ska sama anak-anaknya Umi Rien yang masih Abege itu. Hahaha. Saat menuju Malioboro kami sempat melewati kediaman neneknya Dinanti (Siswi MI Istiqlal) yang masih terletak di daerah Kebumen, Jawa-Tengah. Ternyata mereka juga sedang berlibur ke Jogja, namun sayang perencanaan kami untuk bertemu gak terlaksana. Karena memang situasinya tidak memungkinkan.
Petang hari kami tiba di kawasan Malioboro. Deuhhh senangnyaa bisa ke sini lagiii… kami hanyut dalam euforia keramaian pasar tradisional yang melegenda ini, rasanya gak mau kehilangan moment untuk mengabadikan gambar di dekat tulisan plang Malioboro, wahh benar-benar kawasan wisata yang menarik perhatian.





Sebelum berjibaku dengan jajanan Malioboro kami menikmati Bakso khas Malioboro yang khas dengan bakso keringnya plus campuran krupuk yang lebih mirip bakso Malang namun tetap lezattt dan menghangatkan dan juga gak ketinggalan menikmati es durian yang cukup segar ^0^
Setelah kenyang dengan santapan sore kami siap untuk berkeliling menyusuri Malioboro untuk membeli barang-barang yang pantas untuk diburu. Hahaha
Aku banyak menemukan berbagai model pedagang saat menjajakan dagangannya kepada para konsumen, ada yang baik, ramah tapi ada juga loh yang jutek, hufthhh bikin sebel aja.
Sudahlahh abaikan, yang penting aku dapet sesuatu yang aku inginkan. Aku juga sempat mengunjungi “Mirota Batik” yang ngehits di Jogja, aku membeli titipan oleh-oleh buat Hanuna. Pengalaman pertama yang paling terekam adalah saat masuk butik tersebut yang tercium aroma rempah-rempah mirip sesajen gitu, mungkin karena di sana juga menjual berbagai macam jamu tradisional yang dikemas secara modern kali yah, jadi menyisakan wangi yang cukup menusuk hidung sampai-sampai Umi Rien cukup pusing dibuatnya.
Setelah lelah dan puas menyusuri jajanan Malioboro kami segera balik ke Mobil, namun tidak beruntung karena di tengah perjalanan hujan sudah mengguyur kami, alhasil baju kamipun sudah cukup lepek karena hujan. ditambah lagi dengan dinginnya Ac. Brrr….
Kami menuju tempat selanjutnya yaitu Kaliurang, di tengah-tengah perjalanan kami berhenti untuk mencoba Nasi Gandul yang posternya terbaca dari dalam mobil. Dengan harga yang cukup murah kami bisa mencoba santapan sederhana ini.

            Kaliurang, Jogja
Malam ini kami akan menginap di rumah keluarga Ayah (Suami Umi Rien) yang memang jarang dihuni karena keluarganya tinggal di Pandeglang. Kami dijemput oleh salah satu keluarga yang memelihara rumah tersebut, dengan melewati jalan berliku dengan suasana hutan salak yang gelap. Hiiii…seruu
Kami disambut dengan baik dan duduk sejenak di rumahnya sambil menikmati teh hangat yang hampir dingin karena terlalu lama menunggu kami menurut pengakuannya. Setelah cukup beristirahat kami langsung diantarkan ke rumah tempat kami menginap. Kebetulan malam itu lampu sedang mati, alhasil kami harus berlilin-lilin ria. Mirip acara “Tukul Arwana Jalan-jalan” sumpahhh. Hihi… dalam suasana jalan yang gelap kemudian masuk rumah kosong yang tetap bersih dengan hanya mengandalkan cahaya dari lilin, secepat mungkin Umi Rien mengambil komando untuk mengambil kasur yang ada di kamar dan dibawa ke ruang tamu, kami sepakat untuk tidur bersama di ruang tamu. Malam itu jam 22.30 WIB setelah Sholat Isya yang sudah diniatkan Jama’ takhir dengan Maghrib, kami langsung terlelap di kasur yang empukk. Tidur bersama itu sangatt mengasyikkan, aku tidur di antara Umi Rien dan Bapak.
Alhamdulillaahillazi Ahyanaa Ba’damaa Amaatana Wailaihinnusyur…
Pagi hari yang sangat sejuk, aku bergegas Sholat Subuh, setelah itu Bapak mengajakku untuk berkeliling halaman Kaliurang yang dekat dengan kaki gunung Merapi itu untuk menghirup udara segarr… Alhamdulillah…


Btw Kaliurang itu memang terkenal yahh dengan Salaknya, namun kurang beruntung karena kali ini sedang tidak panen jadi tanaman Salaknya belum berbuah lagi. Setelah cukup lelah kami kembali ke rumah untuk sarapan bersama. Umi Rien dan Om May membuat pop mie hangat yang airnya direbus dengan menggunakan nesting yang dibawa oleh Om May. Ckckck.
Saat bersantai dengan sarapan kami berbincang-bincang membicarakan tidur tadi malam yang sangat lelap sampai-sampai lupa mimpi apa dan benar-benar gak mendusin sama sekali, bangun-bangun pas Subuh. Alhamdulillah kami benar-benar nyenyak dan nyaman istirahatnya dan tidak terjadi hal-hal aneh. Hihihi
Setelah sarapan kami bersiap-siap untuk merapihkan diri dan melanjutkan perjalanan lagi. Makasii ya Bu dan Mba yang udah menyambut kedatangan kami, menyiapkan makanan dan sarapan untuk kami. Semoga Bapak dan Ibu sekeluarga selalu diberkahi Allah. Aamiin.


            
                Museum Merapi, Kaliurang, Jogja
Sebelum menuju destination selanjutnya, kami mengunjungi Museum Merapi terlebih dahulu. Tiket masuk ke Museum Merapi hanya Rp. 5000,- /org, dan yang lebih asik lagi Museum ini dilengkapi dengan akses hotspot gratisss! Gak heran kalo mau posting di Path lokasi Museum Merapi ini sudah menjamur. Hihi
Saat masuk ke dalam Museum Merapi yang aku rasakan adalah aura gunung meletus yang terjadi beberapa tahun lalu, mungkin karena bukti secara fisik jelas sekali ditampilkan di tempat ini. MasyaAllah…
Semua yang diperlihatkan adalah bukti kebesaran Allah SWT. Allah yang menciptakan langit dan bumi beserta gunung-gunung yang menjulang tinggi dan pada masanya nanti gunung-gunung yang tinggi itupun akan hancur bagaikan anai-anai yang berterbangan. Wallahu’alam…
Jadi semakin bersyukur Ya Allah…^-^






Oh yaa,,saat kami pulang dan menuju tempat selanjutnya, kami melihat sekumpulan club motor Yamaha CB dari berbagai daerah berkumpul di Kaliurang. Seru juga yahh bisa lihat koleksi motor jadul model Yamaha CB gitu dkk nya. Hehehe

            Candi Prambanan, Klaten,  Jawa-Tengah
Ini keajaiban, aku takjub dibuatnya, ini adalah pengalaman pertama kali aku ke Candi Prambanan. Gak kebayang yahh Candi sebesar ini tetap kokoh menjadi situs sejarah dunia yang gak sepi dikunjungi oleh banyak turis domestik maupun luar negeri.
Aku seperti ingin membaca setiap guratan batu candi yang pasti mengisahkan kisah yang telah lalu, namun apa daya aku hanyalah wanita akhir zaman yang hanya mendapat cerita dan mempelajari sejarah-sejarah peradaban yang pernah terjadi dengan pemahaman yang sederhana. Subhanallah dengan segala penciptaanNya.
Sebagai informasi, tiket masuk Candi Prambanan adalah Rp. 30.000,-/org. sambil menikmati bangunan indah ini, yuk sama-sama kita pelajari sejarahnya meskipun hanya sedikit.

Asal-usul nama
Gugusan candi ini dinamakan “PRAMBANAN” karena terletak di daerah Prambanan. Nama “LORO JONGGRANG” berkaitan dengan legenda yang menceritakan tentang seorang dara yang jonggrang atau gadis jangkung putri Prabu Boko.

       Sejarah
Candi Prambanan adalah kelompok percandian Hindu yang dibangun oleh raja-raja Dinasti sanjaya pada abad IX. Ditemukannya tulisan nama Pikatan pada candi ini menimbulkan pendapat bahwa candi ini dibangun oleh Rakai Pikatan yang kemudian diselesaikan oleh Rakai Balitung berdasarkan prasasti berangka tahun 856 M “Prasasti Siwargrha” sebagai manifest politik untuk meneguhkan kedudukannya sebagai raja yang besar. Terjadinya perpindahan pusat kerajaan Mataram ke Jawa Timur berakibat tidak terawatnya candi-candi di daerah ini ditambah terjadinya gempa bumi serta beberapa kali meletusnya Gunung Merapi menjadikan candi Prambanan runtuh tinggal puing-puing batu yang berserakan. Sungguh menyedihkan itulah keadaan pada saat penemuan kembali candi Prambanan.
Usaha pemugaran yang dilaksanakan pemerintah Hindia Belanda berjalan sangat lamban dan akhirnya pekerjaan pemugaran yang sangat berharga itu diselesaikan oleh bangsa Indonesia.
Pada tanggal 20 Desember 1953 pemugaran candi induk Loro Jonggrang secara resmi dinyatakan selesai oleh Dr. Ir. Sukarno sebagai Presiden Republik Indonesia pertama.
Sampai sekarang pekerjaan pemugaran dilanjutkan, yaitu pemugaran candi Brahma dan Candi Wisnu. Candi Brahma dipugar mulai tahun 1977 dan selesai serta diresmikan pada tanggal 23 Maret 1987. Sedangkan candi Wisnu mulai dipugar pada tahun 1982, selesai dan diresmikan oleh Bapak Presiden Soeharto pada tanggal 27 April 1991.

       Deskripsi Bangunan
Latar pusat adalah latar terpenting diatasnya berdiri 16 buah candi besar dan kecil. Candi-candi utama terdiri atas 2 deret yang saling berhadapan. Deret pertama yaitu candi Siwa, candi Wisnu, dan candi Brahma. Deret kedua yaitu candi Nandi, candi Angsa dan candi Garuda. Pada ujung-ujung lorong yang memisahkan kedua deretan candi tersebut terdapat candi apit. Delapan candi lainnya lebih kecil. Empat diantaranya candi Kelir dan empat candi lainnya disebut candi Sudut. Secara keseluruhan percandian ini terdiri atas 240 buah candi.
Nahh…itu dia tadi temansss sekelumit sejarah tentang candi Prambanan yang cantik itu. Aku juga gak ingin kehilangan moment untuk mengabadikannya dalam bentuk foto ataupun video.
Akupun sempat menanjak candi Apit yang luas dasarnya 6 meter persegi dengan tinggi 16 meter. Ruangannya kosong. Mungkin candi ini dipergunakan untuk bersemedi sebelum memasuki candi-candi induk. Karena keindahannya ia mungkin digunakan untuk menanamkan estetika dalam komplek percandian Prambanan.





                                                                         (My Father)

(Candi Apit)

Siang itu sangatt terikkk… tapi sangat menakjubkan…

            Pantai Parangtritis, Jawa-Tengah
Sebelum tiba di Pantai Parangtritis, kami berhenti untuk membeli makan untuk siang nanti di Pantai. Yeayyy… akhirnya setelah kurang lebih satu jam lamanya kami seru-seruan di dalam mobil sambil lagi-lagi mendengarkan lagu ala-ala anak ska by anaknya Umi Rien. Hehe. Kami tiba di Pantai Parangtritis.
Selamat datang kembali di laut lepas pantai selatan yang terkenal ini. Hampir lima tahun lalu aku mengunjungi pantai yang sama, namun memang ada yang berbeda, entah fasilitas wisata atau view nya. Meskipun Pantai Parangtritis terkenal dengan laut lepas pantai selatannya yang penuh fenomena tapi kalau melihat dari view sekelilingnya, aku lebih nyaman melihat Pantai Ancol.. hemm mungkin karena kurang bersih kali yah?! Entahlah..
Tiba di Pantai Parangtritis dalam suasana yang cukup panas menyengat, kami makan bersama terlebih dahulu, setelah itu cuzz lah cek-cek pantai, tapi kali ini aku tidak berniat membasahi diriku di Pantai tersebut, sementara jagoannya Umi Rien asikk bermain air dan menceburkan diri di laut lepas tersebut.. ahhh serunyaa…

                                                               (My Father and Me)

Seperti ingin mengulang moment beberapa tahun lalu, hari itu juga aku memesan kelapa muda hijau yang dingin dan segar…hemm. Alhamdulillah
Temanss,,,udah berasa hitam nihh.. yuk ahh ke tujuan berikutnya. Rencana kami adalah mengunjungi rumah orang tua Ibunda dari Naila dan Luthfan (Peserta didik MI Istiqlal) yang kebetulan sedang berlibur juga.
Waktu sudah menunjukkan Adzan Ashar, kami mampir sejenak di Masjid pinggir jalan untuk menunaikan sholat berjamaah.

            Lempuyangan, Jogja Jawa-Tengah
Tanpa direncanakan akhirnya kami bisa mengunjungi kediaman Nenek dari Bunda nya Naila dan Luthfan yang rumahnya terletak di daerah Lempuyangan, tidak jauh dari Stasiun Lempuyangan karena masuk dalam kompleks perumahan PJKA.
Senangnya bisa silaturahim,,, kami berbincang sejenak melepas lelah lalu melaksanakan Sholat Maghrib karena Adzan sudah berkumandang. Setelah cukup kami pamit untuk segera menuju Magelang. 


Terimakasih Bunda Naila untuk penerimaannya dan buah tangannya buat kami. ^0^

            Hotel The Joglo, Candi Mendut, Magelang Jawa-Tengah
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB kami melewati rumah dinas Kabupaten Magelang dan sudah masuk ke kawasan kota Magelang, mendekati Borobudur. Setelah hunting lokasi hotel yang masih kosong akhirnya Alhamdulillah kami bisa istirahat di Hotel The Joglo yang tidak jauh dari Candi Mendut dan hanya kurang lebih 10 menit untuk menuju Candi Borobudur. Kami menyewa 2 kamar hotel yang dibandrol dengan harga sewa Rp. 300.000,-/kamar. Cukup nyaman dengan berbagai fasilitas seperti 2 bed dalam satu kamar, kamar ber AC, Tv, dan layanan Wifi gratis meskipun akhirnya kami tidak memanfaatkan Wifi tersebut. Malam ini kami sangat lelah, sebelum terlelap tidur Umi Rien ajak aku dan Om May keluar untuk membeli makan malam terlebih dahulu.
Wushhh…..mobil kami melaju menembus hembusan angin dengan udara yang cukup dingin. Aku hampir takjub melihat sekeliling jalan sampai membuka jendela. Malam hari di Kawasan Borobudur sangat menyenangkan.
Oh ya saat kami sedang berjalan-jalan malam ternyata bertepatan dengan perayaan hari ulang tahun kota Mungkid kabupaten Magelang yang ke 32 di alun-alun Kota Mungkid.
Alhamdulillah setelah kenyang makan malam bersama di kamar hotel, kami membuat kesepakatan untuk bangun pagi dan jam 6 kami menuju Candi Borobudur. Oke sepakat…
Setelah sholat Isya,,, aku merebahkan diri dengan nyaman.
Bismika Allahumma Ahya Wabismika Amutt…

            Candi Borobudur, Magelang, Jawa-Tengah
Good morning Magelang… ba’da subuh kami sudah bergegas untuk melanjutkan trip ke Candi Borobudur sambil menikmati matahari terbit, meski sempat sulit membangunkan jagoan2nya Umi tapi akhirnya mereka merdeka juga dari rasa kantuknya.
Udara segarpun berhembus saat mobil kami melewati Candi Mendut yang tegak berdiri dan meluncur ke lokasi, sebelum menanjak Candi kami sarapan dengan pilihan menu, ada nasi uduk, bubur ayam atau lontong sayur di pinggir jalan kawasan Candi Borobudur. Ehmmm nikmatnya…
Tiket masuk ke Candi Borobudur adalah Rp. 30.000,- /orang. Waktu buka Candi dari jam 06.00 s/d 17.00 WIB. Kami seperti beruntung karena pagi itu masih berkabut dan  pengunjung belum terlalu penuh ditambah lagi nuansa menyambut matahari terbit sangat menakjubkan. Indahnyaaa… Subhanallah…


Kami melangkah sedikit demi sedikit, aku sempat mengabadikan foto sambil duduk di atas patung Singa, Upzzz.. Ya Tuhan… ternyata peraturannya sudah tidak boleh menaiki benda-benda candi tersebut, bahkan untuk menyandar ke beberapa bagian candi pun dilarang. Tidak boleh memegang stupa yang ada di dalam dan aku perhatikan jalan bebatuan di pinggir candi sudah banyak yang berbunyi, mungkin karena batunya sudah mulai merenggang. Maklum lah yahh, sudah lima tahun yang lalu aku baru ke tempat ini lagi, banyak perubahan dan mungkin ini adalah bagian dari pemeliharaan situs-situs sejarah. Maapkeunnn…. 



Btw kami sudah menanjak dan bersiap melihat keajaiban pagi yang indah ini, badanku terasa hangat karena panas matahari mulai terbit, bukan hanya wisatawan domestik saja yang sangat antusias mengabadikan moment sun rise di atas Candi Borobudur tetapi juga para wisatawan mancanegara yang tidak maul kehilangan moment keren ini.








Guys,,, ada sedikit informasi nih tentang Candi Borobudur yang kami kunjungi:
       Lokasi
Candi Borobudur terletak di desa Borobudur, kecamatan Borobudur, kabupaten Magelang, Jawa-Tengah dan dikelilingi beberapa dusun antara lain Bumi Segoro, Sabreng, Gopala, Jawahan, Barepan, Ngarak, Kelan, Janan dan Gendingan.
Dr. Soekmono dalam bukunya Candi Borobudur, Pustaka Jaya menuliskan:
Pada zaman dahulu Pulau Jawa terapung-apung di tengah lautan oleh karenanya harus dipaku pada pusat bumi agar dapat dihuni manusia. Paku yang sangat besar itu kini menjadi sebuah gunung yang terletak di kota Magelang yaitu gunung Tidar. Di sebelah selatan gunung Tidar kira-kira jarak 15 km terdapat candi Borobudur. Candi Borobudur yang terletak di daratan Kedu hampir seluruhnya dilingkari pegunungan. Di sebelah timur terdapat gunung Merapi dan gunung Merbabu. Pada gunung Merapi itu setiap dua atau tiga tahun terdengar letusan-letusan yang menandakan masih aktif dalam kegiatannya. Sisi barat laut terdapat gunung Sumbing dan Sindoro. Juga di sebelah selatan yang membujur dari timur ke barat terdapat pegunungan Menoreh. Oleh karena puncak-puncak pegunungan ini banyak yang runcing bagai menara maka pegunungan ini dinamakan pegunungan Menoreh. Dilihat dari candi Borobudur puncak-puncak pegunungan Menoreh serupa dengan seorang yang sedang terlentang di atas pegunungan tersebut. Karena itulah ada cerita rakyat yang menjelaskan bahwa bagian dari puncak gunung yang serupa dengan orang tidur itu ialah Gunadharma, yaitu ahli bangunan yang berhasil membuat candi Borobudur.

Sikap tangan atau Mudra candi Borobudur
            Jumlah Mudra yang pokok ada 5, yaitu:
1.      Bhumispara Mudra :
Sikap tangan ini melambangkan saat Sang Budha memanggil Dewi Bumi sebagai saksi ketika ia menangkis semua serangan iblis Mara
2.      Wara Mudra :
Sikap tangan ini melambangkan perihal amal, memberi anugerah atau berkah. Mudra ini adalah khas bagi Dhyani Budha Ratna Sambawa. Patung-patungnya menghadap ke Selatan
3.      Dyana Mudra :
Sikap tangan ini melambangkan sedang semedi atau mengheningkan cipta. Mudra ini merupakan tanda khusus Dhyani Budha Amitabha. Patung-patungnya menghadap ke Barat
4.      Abhaya Mudra :
Sikap tangan ini melambangkan sedang menenangkan. Mudra ini merupakan tanda khusus Dhyani Budha Amoghasdhi, patung-patungnya menghadap ke utara
5.      Dharma Cakra Mudra :
Sikap tangan ini melambangkan gerak memutar roda dharma. Mudra ini menjadi ciri khas Dhyani Budha Wairocana daerah kekuasaannya terletak di pusat. Khusus di candi Borobudur Wairocana ini digambarkan juga dengan sikap tangan yang disebut Witarka Mudra.
            (Dr. Soekmono, Candi Borobudur, Pustaka Jaya, 1981, hal 80, 82, 83)

      Uraian bentuk bangunan :
Candi Borobudur tidak mempunyai bilik ataupun ruangan didalamnya oleh karena itu tidak dapat berfungsi sepenuhnya sebagai candi. Maka lebih tepatnya kiranya kalau bangunan itu kita anggap sebagai bangunan ziarah dan bukan sebagai tempat pemujaan.
Sesungguhnya adanya jenjang-jenjang dan lorong-lorong dimaksudkan sebagai pengantar serta pemandu para peziarah untuk menuju ke puncak melalui jalan keliling dari satu tingkat ke tingkat berikutnya.
Perjalanan setingkat demi setingkat sesuai benar dengan aliran Budha yang memang sangat mementingkan adanya tingkatan-tingkatan dalam persiapan mental para penganutnya yang setia. Melalui tingkatan-tingkatan itulah tujuan akhir perjalanan manusia dapat tercapai. Yaitu terlepasnya secara mutlak dari segi ikatan duniawi dan dapat bebas secara mutlak dari kelahiran kembali.
Adapun tingkatan-tingkatan itu pada dasarnya dapat pula diterapkan pembagian alam semesta menjadi tiga dunia :
Dunia paling bawah / KAMADHATU = atau dunia hasrat. Dalam tingkatan ini manusia masih terikat pada hasrat bahkan dikuasai oleh hasrat. Relief ini terdapat pada kaki candi bangunan asli
Dunia yang lebih tinggi / RUPADHATU = atau dunia rupa. Manusia telah meninggalkan segala hasratnya, tetapi masih terikat pada nama dan rupa. Bagian ini terdapat pada langkan 1 sampai 5
Dunia yang tertinggi / ARUPADHATU = atau dunia tanpa rupa. Dalam tingkatan ini sudah tidak ada sama sekali nama ataupun rupa. Manusia telah bebas sama sekali dan telah memutuskan untuk selama lamanya segala ikatan kepada dunia fana.
(Dr. Soekmono, Candi Borobudur, Pustaka Jaya, 1981, hal 47)



            
       Nah…. Demikian sekelumit informasi tentang Candi Borobudur yang kami kunjungi guys… semoga bermanfaat yah,, tentunya ini pengalaman menarik buat aku. Bahagia banget bisa menikmati matahari terbit di puncak Candi Borobudur ^0^
       Setelah menikmati pemandangan indah pagi ini, kami kembali ke Hotel untuk bergegas check out dari Kota Magelang dan langsung menuju Jakarta. Dalam perjalanan menuju Jakarta kami melewati Ambarawa yang di pinggir jalannya terdapat penual kue serabi kuah. Kemudian kami melewati Pabrik Biskuit yang terletak di Kota Semarang. Oh iya ada yang lebih menarik yaitu kami melipir sejenak untuk makan menu lezat Sate Sapi Pak Kempleng  2 yang terletak di Jl. Diponegoro 2, Semarang. Benar-benar lezattt…. Bahkan Mikal (Anaknya umi) saja sampai menambah porsi untuk menikmati Sate Sapi bersama dengan Soto Dagingnya yang lezat itu. Harga Sate Sapi Pak Kempleng di bandrol dengan harga Rp. 5000,- per tusuk dan Rp. 20.000 untuk harga semangkuk Soto  Daging. Semua terbayarkan dengan rasa yang legendaris terbukti dengan para konsumen yang datang tidak hanya anak-anak muda bahkan orang tua-orang tua hampir sepuh saja betah berlama-lama di sana. Mantapp…


        Malam hari perjalanan kami terus melaju, kami sudah berada di Brebes dan lagi-lagi kami melipir untuk sholat dan makan malam di dekat Masjid tempat kami sholat.
        zZZZzzz……aroma kantuk pun merajuk, Ayah membawa mobil ditemani oleh Umi dengan kecepatan yang cukup dan membutuhkan konsentrasi. Aku dan yang lainnya memilih tidur menikmati perjalanan ini.
       Alhamdulillah pukul 12.00 malam kami sudah tiba di Bekasi, kami sempat beristirahat di rumah Umi sebelum subuh nanti berangkat kembali untuk beraktifitas. Adzan Subuh pun berkumandang, kami segera sholat subuh dan bergegas untuk berangkat. Bapak dijemput adikku di perempatan jalan dekat rumah untuk pulang sedangkan aku dan Umi lanjut menuju Istiqlal dengan bekal baju seragam sekolah yang tadi baru dikasih adikku.
       Selamat pagi Juanda…… menuju Masjid tercintaaa… Alhamdulillah liburan kali ini sangat menyenangkan. Terimakasih Ya Allah atas segala nikmatMu.


Thursday – Sunday ,  March 24 – 27 th, 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar